Dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua orang pernah bertemu dengan sosok yang terasa membawa energi negatif.
Sulit dijelaskan secara pasti, tetapi ada sesuatu dari sikap atau perilakunya yang terasa kurang menyenangkan.
Yang mengejutkan, bisa jadi tanpa disadari, seseorang pun termasuk dalam kategori tersebut.
Beberapa kebiasaan ternyata mampu memunculkan kesan negatif pada orang lain, meskipun tidak ada niat buruk di baliknya.
Psikologi mengungkap bahwa terdapat kebiasaan-kebiasaan tertentu yang secara tidak sadar menimbulkan kesan kurang menyenangkan bagi orang sekitar. Menyadari hal ini bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki interaksi sosial.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (7/5), berikut delapan kebiasaan yang tanpa disadari dapat memberi aura negatif dan membuat orang lain merasa kurang nyaman.
1. Terlalu Sering Bersikap Negatif
Wajar jika sesekali merasa kesal atau kecewa. Namun, jika terlalu sering mengeluh atau bersikap pesimis, hal ini dapat menyebarkan energi negatif ke sekitar. Psikologi menyebut bahwa suasana hati bisa menular.
Apabila selalu memperlihatkan aspek negatif pada tiap pembicaraan, orang lain mungkin mengalami kelelahan emosi. Tidak perlu senantiasa tampak gembira. Akan tetapi, menciptakan kesetaraan di antara ungkapan keluhan dengan sudut pandang yang optimis dapat mendukung pemeliharaan iklim interaksi agar tetap bermartabat.
2. Tidak Menyayangi Ruang Milik oranglain
Tiap orang punya titik toleransi sendiri saat bertemu dengan lainnya. Mendekati mereka secara terus-menerus atau mengganggu personal space-nya dapat membuat perasaan tak enak. Penghormatan di antara manusia salah satunya ditunjukkan lewat pemahaman bahwa masing-masing dari kita miliki batasan baik fisika ataupun emosi.
Menjaga jarak yang tepat bisa menunjukkan rasa hormat. Menghormati ruang pribadi juga termasuk tidak memaksa seseorang untuk membuka diri sebelum merasa nyaman. Sikap ini akan menciptakan hubungan yang lebih sehat dan alami.
3. Menghindari Kontak Mata
Kontak mata adalah bagian penting dari komunikasi nonverbal. Saat seseorang menghindari menatap lawan bicaranya, bisa muncul kesan tidak tertarik atau tidak jujur. Penelitian dari University of Cambridge menunjukkan bahwa kontak mata yang tepat dapat memperkuat koneksi sosial.
Sebaliknya, menghindarinya dapat menciptakan jarak emosional. Cukup dengan menjaga kontak mata yang alami, tanpa terlalu lama menatap, sudah bisa meningkatkan kualitas komunikasi dengan orang lain.
4. Terlalu Kritis terhadap Orang Lain
Memberikan masukan memang diperlukan dalam situasi tertentu. Namun, jika terlalu sering mengkritik atau menunjukkan kesalahan orang lain, hal ini bisa menciptakan kesan negatif.
Tiap orang punya cerita serta sejarah masing-masing. Menilai secara prematur dapat menjadikan seseorang merasa tak dihormati ataupun dilecehkan. Sebaiknya fokuslah pada bantuan dan apresiasi atas upaya yang telah mereka tunjukkan. Kritikan yang dibawakan dengan perhatian emosional bakal jauh lebih gampang untuk dipahami.
5. Menjaga Rasa orang lain
Ketika seseorang mengalami perlakuan seperti tak dipedulikan atau terabaikan, hal itu dapat menyebabkan rasa ditolak secara emosi. Ini mungkin memiliki efek negatif pada interaksi sosialnya. Ungkapkan simpatimu dengan memperhatikan apa yang dikatakannya serta memberikan tanggapan yang teliti.
Terkadang, cukup dengan jadi pendengar yang baik saja sudah bisa bikin orang merasa dihormati. Menghargai emosi oranglain tak melulu tentang menawarkan jawaban, tapi lebih kepada menjadi figur penyayang dan bersedia mendengarkan perasaaannya.
6. Terlalu Fokus pada Telepon Genggam saat Berinteraksi Sosial
Saat sedang dalam suatu acara sosial, sering kali melihat ponsel dapat membawa persepsi buruk bagi yang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa fokus komunikasi kurang total terhadap peserta obrolan.
Habit ini dapat merusak kualitas interaksi serta membentuk kesenjangan emosi. Walaupun tampak remeh, efeknya sangat signifikan pada pandangan orang lain. Membatasi pemakaian telepon genggam ketika berinteraksi dengan orang lain memberi indikasi bahwa hadirnya mereka amat bernilai dan diperhitungkan sepenuh hati.
7. Sering Terlambat
Terlambat datang berulang kali dapat dilihat sebagai tindakan tidak sopan atau pengabaian atas nilai waktu bagi orang lain. Hal ini mungkin membahayakan kepercayaan serta ikatan baik dalam konteks kerja maupun personal.
Walaupun menghadapi keadaan darurat yang tidak dapat dielakkan, penundaan-penundaan secara berkelanjutan mencerminkan pengendalian waktu yang buruk. Ini mungkin menjadi sumber stres dalam hubungan interpersonal.
Upayakan untuk sampai pada waktunya dan laporkan apabila terdapat hambatan. Hal kecil tersebut dapat mengindikasikan rasa penghormatan serta keseriusan Anda.
8. Tidak Memperhatikan dengan Saksama
Mendengarkan bukan hanya tentang diam ketika seseorang sedang bercerita. Ini mencakup konsentrasi, empati, serta respons yang tulus atas informasi yang diberikan. Keterbatasan dalam mendengar dapat menyebabkan pihak lain merasa kurang dihormati atau tak berguna.
Sehingga, ikatan sosial dapat melemah. Melalui pendengaran yang tulus, individu berpotensi mengokohkan relasi mereka serta menciptakan dampak baik pada tiap pertemuan.
Meningkatkan kesadaran tentang rutinitas harian dapat menjadi tahap pertama untuk meningkatkan gambaran diri.
Perubahan sederhana pada cara kita bersikap, misalnya dengan mempertahankan kontak mata, menghormati jadwal waktu, dan menyampaikan rasa simpati, dapat berdampak signifikan pada bagaimana orang lain melihat kita. Melakukan refleksi pribadi secara berkala sangat dianjurkan untuk mencegah terseret ke dalam pola perilaku yang tak disadari bisa menciptakan citra buruk.