. CO.ID– JAKARTA.
Walau indeks Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional meningkat sedikit menjadi 121,15 di bulan Mei 2025 atau naik sekitar 0,07%, namun ada kecemasan baru tentang kemungkinan dampak negatif terhadap hasil panen para petani karena diperkirakan akan turun hujan dengan intensitas tinggi dari Juni sampai Juli.
Pudji Ismartini dari Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS menyatakan bahwa BMKG memproyeksikan intensitas hujan dalam beberapa location di Indonesia akan mencapai tingkat tinggi sampai sangat tinggi untuk periode dua bulan mendatang. Hal tersebut dapat membahayakan proses penanaman tanaman pangan seperti beras, karena ketersediaan hasil panen amat dipengaruhi oleh cuaca.
” Meskipun intensitas hujan sampai bulan Juli secara keseluruhan termasuk dalam kategori rendah hingga sedang dan mendukung pertanian, beberapa daerah yang diprediksikan akan mengalami hujan lebat perlu terus waspada,” kata Pudji pada konferensi pers, Senin (2/6).
Akibat dari situasi iklim ekstrim tersebut bisa memperburuk variasi dalam luas panen, yang sebelumnya mencatat penurunan 3,22% setiap tahun di bulan April 2025, berkurang dari complete 1,71 juta hektar menjadi 1,65 juta hektar saja. Pengurangan ini mengindikasikan bahwa beban bagi industri perternakan masih belum reda.
Berdasarkan information dari BPS, persentase location perladangan yang sedang digunakan untuk masa tumbuh tanaman padi (standing plant) mengalami penurunan setelah adanya serbuan panen besar-besaran di bulan Maret dan April. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi produksi selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan prosedur penanaman baru, dimana hal tersebut dapat terhambat akibat intensitas hujan tinggi.
Apabila masalah iklim ini tak terselesaikan, maka dampaknya akan meluas ke berbagai aspek seperti produktivitas, penghasilan, serta kualitas hidup para petani, terlebih pada bagian pertanian pangan yang sangat peka terhadap fluktuasi cuaca.
