16 Jan 2026, Fri

Pemindaian Retina ke Worldcoin Dikhawatirkan Sebagai Kolonialisme Data Baru

Pemindaian Retina ke Worldcoin Dikhawatirkan Sebagai Kolonialisme Data Baru





,.


Jakarta.


– Associate Professor serta Koordinator Progam Studi Data Science di Monash University, Indonesia, Derry Wijaya, menggarisbawahi adanya potensi risiko yang terkait dengan penerapan teknologi information scientific research.
information biometrik.
oleh aplikasi.
Worldcoin.
Dia mengira bahwa tawaran imbalan berupa uang tunai sebagai ganti pertukaran information adalah legitimate.
retina.
sangat berbahaya dan penuh dengan perdebatan.

” Data retina kita itu sebenarnya merupakan information yang sangat spesifik,” ujar Derry dalam video clip yang diunggah di instagram pribadinya, dikutip Rabu, 7 Mei 2025.

Belakangan, layanan Worldcoin dan WorldID ramai diperbincangkan masyarakat dan media sosial karena memberi imbalan uang tunai bagi pengguna yang bersedia memindai retina mereka. Praktik ini dinilai Derry tidak bisa dianggap enteng.

Worldcoin membolehkan para penggunanya mendapatkan token electronic setelah melalui proses pencitraan retina menggunakan perangkat yang disebut orbs. Nantinya, token tersebut dapat diubah bentuknya ke dalam mata uang rupiah dengan nilai antara Rp 300 ribu sampai dengan Rp 800 ribu. Tetapi, Derry menekankan pentingnya perlindungan terhadap information biometri semacam retina karena sifat datanya yang amat sensitif serta telah dilindungi oleh UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Dan hal ini juga menjadi polemik karena masuk dalam kategorikolonialisme information,” katanya.” Di sini, information tersebut dikumpulkan oleh perusahaan teknologi dari negara-negara sedang berkembangan, lalu information ini digunakan untuk mengajar sistem-sistempintar buatan kecerdasan buatan yang nantinyaakan diterapkan secara worldwide, khususnya di negara-negara yang telah makmur.

Derry mendeskripsikan tindakan tersebut sebagai versi kontemporer dari kolonialisme. “Seperti halnya kolonialisasi di masa lalu, jenis eksploitasi saat ini tidak lagi berupa pendudukan tanah oleh para penjajah dan pengambilan sumber daya alami mereka, tetapi lebih kepada kedatangan mereka untuk mengumpulkan information kami yang nantinya digunakan dalam pelatihan sistem AI,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan masyarakat supaya waspada terhadap aplikasi-aplikasi yang memberikan janji hadiah hanya untuk memperoleh information pribadi. Dia menegaskan betapa pentingnya bagi publik untuk menyadari maksud dari pengumpulan information ini, cara perusahaan menggunakan dan melindunginya, lokasi penyimpanan information serta metode penanganannya, termasuk hak pemilik atas keberlangsungan atau hapusnya datanya nanti.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital menghentikan sementara layanan Worldcoin dan WorldID mulai Minggu, 4 Mei 2025, setelah mendapatkan laporan tentang antrian panjang dari warga di Bekasi dan Depok yang berminat untuk mendaftar serta melaksanakan pemeriksaan mata di kantor Worldcoin.

Menurut laporan dari World, Worldcoin adalah cryptocurrency beroperasi yang dikendalikan dan dikelola melalui sistem kebijakan oleh sebuah jaringan internasional bernama World Network. Proyek ini diciptakan oleh CEO OpenAI yaitu Sam Altman. Sedangkan World ID menjadi komponen penting dalam Worldcoin dimana ia memakai informasi biometrik untuk mengidentifikasi para pemakainya.

Pengembang Worldcoin, Tools for Humanity (TFH), menyatakan penghentian operasional itu dilakukan secara sukarela sambil menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai persyaratan izin dan lisensi yang berlaku di Indonesia. Manajemen menyatakan siap menindaklanjuti kekurangan dalam perizinan, bila memang ditemukan oleh regulatory authority.

” Kami berharap dapat terus melanjutkan dialog konstruktif dan suportif yang telah terjalin selama setahun terakhir dengan pihak pemerintah terkait,” demikian pernyataan Tools for Humanity dalam keterangan yang diterima.
Pace.
pada Senin, 5 Mei 2025.

By st